Makna Prosesi Adat Penjemputan Gubernur Sulsel di Rongkong Luwu Utara

Makna Prosesi Adat Penjemputan Gubernur Sulsel di Rongkong Luwu Utara

Minggu, 05 Januari 2020



Wartaberita.co.id - Dalam lawatan menuju Kecamatan Seko 31 Desember 2019 lalu, Gubernur Sulsel Prof.HM.Nurdin Abdullah, Singgah melakukan peresmian perluasan jaringan Listrik di Kecamatan Rongkong Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Gubernur secara simbolis meresmikan jaringan Listrik PLN Untuk 6(Enam) Desa sekaligus yakni, Desa Komba, Desa Minanga, Desa rinding Allo, Desa marampa, Desa Limbong, dan Desa pengkendekan. Yang dilaksanakan pengerjaannya oleh PT PLN ( Persero) UIW, Sulselbar, UP2K silulsel, UP3 Palopo.

Tidak luput dalam kegiatan tersebut dimana kedatangan Gubernur dan rombongan disambut dengan prosesi adat masyarakat kecamatan Rongkong.

Berhasil dihimpun makna prosesi adat tersebut dari Kepala UPT Pengelolaan Objek Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Luwu Utara, Bulan Masagena.(Via WhatsApp  ) Minggu, (5/1/2020)

"Rongkong Tana Masakke Lipumaraninding (Rongkong tanah yang dingin sejuk dan damai), Dan sudah menjadi tradisi masyarakat Rongkong bahwa pejabat yang pertama kali berkunjung ke wilayah rongkong akan disambut secara adat", Urai Bulan Masagena pada media ini.

Menurutnya, Prosesi penyambutan secara adat telah dilakukan para leluhur rongkong secara turun temurun hingga kini.

Terkait dengan itu, Kata Dia, Gubernur dan rombongan disambut dengan tari pangngaru Rongkong dilanjutkan dengan prosesi Massolo'.

"Tarian pangngaru rongkong menggambarkan ketangkasan dan keberanian patriot-patriot Tana Rongkong pada zaman dahulu kala dalam membela dan mempertahankan
kerajaan Luwu dengan semangat juang yang berkobar-kobar", Urai Bulan

"Pedang dan tombak ditangan kanan adalah senjata untuk menyerang serta Perisai di tangan kiri adalah alat untuk menangkis serangan lawan.
Tarian ini ditampilkan pada acara-acara adat yang disakralkan serta
penyambutan tamu-tamu agung", Lanjutnya.

Sementara untuk prosesi Massolo’, Dijelaskan bahwa itu dilakukan pada prosesi penyambutan adat yang merupakan bentuk penghargaan kepada tamu agung yang berkunjung ke wilayah Rongkong,
dengan harapan kunjungan tersebut akan membawa berkah bagi masyarakat
Rongkong.

"Massolo’ dilakukan oleh para perangkat adat dengan syarat beras putih dan 3 biji telur ayam serta ayam jantan putih yang bermakna bahwa :
- Putih beras seputih hati masyarakat rongkong menerima dan mendo’akan
kehadiran bapak gubernur  beserta rombongan semoga selamat dalam
menjalankan tugas di Tana Rongkong hingga kembali ke kediaman
- 3 biji telur sebagai simbol dari 3 unsur yakni unsur adat, unsur agama dan unsur pemerintah yang akan selalu terpelihara, seimbang dan siap bekerjasama mengayomi masyarakat dalam mengarungi bahtera kehidupan.
- Ayam Jantan yang diserahkan dengan penuh pengharapan kiranya bapak
gubernur selalu sehat dan kuat hingga tetap berkokok atau bersuara untuk menyuarakan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Rongkong," Ungkap Bulan Masagena

Lebih lengkap dijelaskan, Pada acara penyambutan bapak Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, Juga dikalungi selendang tenun rongkong dan dipakaian rompi batik rongkong yang bermakna bahwa bapak gubernur telah masuk dan menyatu dengan masyarakat Rongkong sehingga telah menjadi bagian dari keluarga rongkong. Tenun rongkong sendiri merupakan tenunan tradisional yg diproduksi dari tangan-tangan masyarakat Rongkong menggunakan alat tenun tradisional dengan bahan-bahan alami sebagai bahan dasar, Dan batik rongkong merupakan batik yang dibuat dengan cara yg lebih modern untuk memperkanalkan motif-motif dari tenun rongkong agar lebih dikenal hingga ke mancanegara karena tenun rongkong memiliki berbagai macam motif yang masing-masing motif memiliki makna tersendiri yg merupakan penggambaran dari kondisi alam sekitar baik flora maupun fauna serta kehidupan sosial masyarakat Rongkong.

Berhasil dihimpun dari (Bulan masagena) Tentang Isi dan makna syair Pangngaru' yang dilantunkan didepan Gubernur Sulsel saat itu.

"Tiro Tiro Kadai Muane iyate
Muane Dipallete Lete londong dibole bole, Dibole bole untana dipallete pinainna,Lusau sau tomaparenta lusau-sau muane iyate, Lurekke rekke tomaparenta Lurekke-rekke muane iyate, tang sumoro’
yang maknanya :
Inilah kami lelaki pemberani yang siap membela dan mengawal pemerintah
dalam menjalankan roda pembangunan dengan prinsip maju pantang mundur membela yang benar.

"Tanah Rongkong, Udaranya dingin tapi tidak membekukan dan mataharinya panas tapi tidak membakar", Tandas Bulan Masagena.(Bulan/red.)

Editor:Ryawan