Mahasiswa Makassar Bersama Novel Baswedan -->

Mahasiswa Makassar Bersama Novel Baswedan

Senin, 15 Juni 2020



WartaBerita.co.id - Kabar ini tentu menggugah hati...

Novel Baswedan, nama ini tentu tak asing lagi bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia. Seorang penyidik senior yang bekerja dalam tubuh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Novel salah satu penyidik yang dikenal intensif dan berkiprah dalam penanganan kasus kelas kakap yang ditangani oleh KPK.

Tak tanggung-tanggung, salah satu kasus yang kabarnya sempatkan meretakkan hubungan antara KPK dengan Polri , pada saat Novel berperan sebagai ketua tim penyidik dalam kasus dugaan korupsi simulator SIM yang menyeret sejumlah nama petinggi Polri. Namun tentunya, perkara itu bukanlah sebuah masalah bagi seorang Novel yang dapat menyurutkan semangatnya dalam mengungkap kasus kelas kakap lainnya termasuk kasus Buku Merah milik pengusaha impor daging Basuki Hariman. Sebab mungkin baginya, Intimidasi dan ancaman lainnya biasalah bagi pejuang keadilan untuk mengungkap yang sebenarnya.

Namun kali ini, tentu seorang Novel harus menghadapi kenyataan pahit dengan luka cacat seumur hidup (Permanen) dibagian mata akibat penyiraman air keras oleh oknum yang tidak dikenal pada beberapa tahun yang lalu. "Beberapa tahun yang lalu".

Kasus Penyiraman Air keras terhadap Novel tentu menjadi perbincangan yang Trending Topic, bahkan beberapa lembaga di Indonesia angkat bicara terkait kasus tersebut. Namun mirisnya, kasus penyiraman air keras terhadap Novel sempat di Polisikan atau di laporkan dengan tudingan, teror terhadap Novel hanyalah Rekayasa Belaka.

Beberapa tahun lamanya pihak kepolisian melakukan segala upaya untuk menangkap pelaku penyiraman air keras terhadap Novel, dan akhirnya berhasil meringkuk 2 pelaku dari anggota Polri (Polisi Republik Indonesia) yang terbukti melakukan penyiraman air keras terhadap Novel, dan apakah setelah tertangkapnya 2 (Dua) pelaku yang melakukan penyiraman air keras terhadap Novel masih di anggap rekayasa belaka ? tentu bukan lagi, dan apa kira-kira sanksi terhadap pelapor yang  melaporkan Novel atas tudingan rakayasa belaka ?, sebab, dalam "Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)" Jika menuduh tanpa bukti, berarti dapat dikatakan tuduhan itu tidak berdasar. Dalam hal ini tuduhan tersebut termasuk fitnah, yang dapat dikenakan sanksi sesuai Pasal 331. Apakah saya yang keliru atau bagaimana?. Ahli Hukum yang tahu pasti.

Pengungkapan pelaku penyiraman cairan air keras terhadap Novel tentunya cukup menyita waktu, pikiran dan tenaga bagi pihak Polri sendiri, entah harus kita ajukan jempol atau bagaimana ? tapi  ah sudahlah, itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab Polri untuk meringkuk seluruh pelaku kejahatan di bumi Nusantara ini, Indonesia. Sudah protapnya.

Namun aneh bin ajaib. ironinya, hasil dari sidang tuntutan bagi pelaku. Terdakwa di tuntut ringan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) 1 tahun penjara dengan pertimbangan sbb,

1. Kedua terdakwa telah meminta maaf kepada Novel & keluarga Novel
2. Kedua terdakwa tidak memiliki niat untuk melakukan penganiayaan berat.
3. Kedua terdakwa belum pernah dihukum sebelumnya atau dalam kata lain "Residivis".
4. Kedua terdakwa, kooperatif selama dalam persidangan. Sehat Pak Jaksa ?

Ngawur !

Apakah seorang Novel akan legowo dan menerima tuntutan rendah itu ?, Sementara cacat yang dialami Novel akan permanen dalam hidupnya. Tentu tidak kawan !

Kendati demikian, tentu Hakim (Yang Mulia) menjadi harapan Rakyat yang akan memutuskan hukuman penjara (Vonis) bagi kedua terdakwa agar penegakan Supremasi Hukum tidak keliru di Negara kita.

Demikian, selebihnya kita konsolidasikan.

#SaveNovel
#MariBergerak
#TegakkanSupremasiHukum